HIJRAH DAN PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN KELUARGA

Firman 
20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.( QS. At-Taubah : 20)

Hijrah mengandung makna perubahan, dengan berpindahnya para sahabat Nabi dari kota Makkah ke kota Madinah terjadilah suatu perubahan baik dari sisi lahiriah, tempat dan suasana lingkungan, dan yang lebih utama lagi terjadinya perubahan suasana batin dimana terjadinya peningkatan keimanan, pengetahuan karena selalu dekat dengan Rasulullah SAW.
Hijrah ini melahirkan tatanan kehidupan masyarakat yang berasaskan nilai-nilai syariat Islam yang bersifat global, tidak hanya menyentuh kota Madinah saja, tetapi  juga rahmatan lil ‘alamien, dengan pilar-pilar utama sebagai berikut:
Pertama . Pengorbanan
Ketika Rasulullah SAW menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa Allah SWT memerintahkan kepada Beliau agar berhijrah, Abu Bakar menyambutnya dengan suka cita dan menghadiahkan 2 ekor onta kepada Rasulullah, namun Rasulullah SAW menolak hadiah tersebut dan membayar harganya. Rasulullah ingin memberikan pelajaran bahwa hijrah ini membutuhkan pengorbanan.

Kedua, Makna Hidup
Beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk menempati tempat tidur beliau dan memakai selimut beliau. Konsekwensi di balik keputusan ini adalah Ali bin Abi Thalib bisa terbunuh, dan hal ini disadari oleh Rasulullah SAW dan Ali bin Abi Thalib, Ali bin Abi Thalib melakukannya tanpa ada keraguan sedikitpun, hidup boleh dipertaruhkan demi membela kebenaran.
Ketiga, Sikap tawakkal dan ikhtiar dan keyakinan akan pertolongan Allah
Hijrah dipersiapkan oleh Rasulullah :

  • Ada sahabat dalam perjalanan.
  • Mempersiapkan perbekalan.
  • Mempersiapkan kendaraan yang baik.
  • Mencari orang yang mengerti dan faham tentang seluk beluk perjalanan ke sana ( Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi yang belum memeluk Islam )
  • Bersembunyi di dalam gua yang dikenal dengan gua Tsur.
  • Sampai di Madinah beliau membangun Mesjid sebagai tempat ibadah dan pemersatu hati kaum Muslimin.

Beberapa Kisah dalam perjalanan Hijrah:

  • Peristiwa di gua Tsur.
  • Cobaan Pembunuhan oleh Suraqah bin Malik.
  • Singgah di kemah Ummu Ma’bad al- Khuza’iyah

Keempat, memaknai Peran Ibu dalam Pendidikan Keluarga.
Ibu adalah sosok manusia yang paling berperan dalam keluarga dalam pendidikan anak, baik dalam pembentukan dan pembinaan biologis anak maupun dalam aspek edukatif, mendidik dan membina karakter anak, sangat ditentukan oleh ibu
Rasulullah saw menasehati seorang pemuda yang bertanya kepada Beliau siapakah orang yang harus dia santuni dan hormati serta dipergauli dengan baik, Rasulullah menjawab ibumu.
جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله من أحق الناس بحسن صحابتي ؟ قال ( أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أبوك ) البخارى و مسلم
” Datang seorang lelaki kepada Rasulullah dan bertanya :” Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk aku prlakukan dengan baik? Jawab Rasul :” Ibu mu”. Siapa lagi wahai Rasul ? ” Ibumu”, trus siapa lagi ? ” Ibumu, siapa lagi? ” Ibumu”, siapa lagi ? ” Bapakmu”.
HR.Bukhari dan Muslim
Anak merupakan karunia Allah yang tak ternilai karena anak bagi keluarga merupakan pelengkap kebahagiaan, dia menjadi hiasan dalam keluarga dan nanti setelah orang tua telah tiada maka doa anak yang shaleh akan menjadi pahala yang berkelanjutan bagi orang tua tersebut.
“harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.(al-Kahfi: 46)
Anak yang menjadi perhiasan keluarga dan asset akhirat maka tanggung jawab orang tuanya untuk membentuk dan membinanya menjadi anak yang shaleh, di rumahlah sang buah hati memperoleh pendidikannya , disinilah peran seorang ibu menjadi sangat vital dan urgen dalam mendidik anak, apabila sang anak tidak memperoleh pendidikan yang baik, atau kurang mendapat bmbingan orang tuanya maka jangan diharap dia akan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

  • Pendidikan yang baik bagi anak à Mutlak diperlukan.

قَالَ الْغَزَالِيْ: لَوْلاَ التَّرْبِيَّةُ لَكَانَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ.
“Kalaulah tidak karena pendidikan, pasti manusia (perilakunya) seperti hewan).”
قَالَ رَسُوْلُ الله  صلى الله  عليه  وسلم : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ  حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يَنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. {رواه الأسود بن سريع}.
“Rasulullah Saw. bersabda: “Setiap anak (manusia) itu dilahirkan dalam keadaan suci hingga dia dapat berbicara. Maka orang tuanyalah yang menjadikan ia menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Aswad bin Sari’).

  • Paling tidak ada dua materi pendidikan yang harus diberikan kepada anak.

Pertama, فرض عين à Pembentukan pribadi muslim yang baik.
Kedua, فرض كفاية à Pembentukan umat/masyarakat yang kuat.

Ilmu Fardlu ‘Ain.

  • Memberikan pendidikan aqidah yang benar à Tauhid yang kuat à Kesadaran ber-Islam yang baik; jauh dari syirik, tahayyul, khurafat, dan lain sebagainya.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ. {لقمان : 13}.
“Dan  ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kedzaliman  yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13). 
Syirik à Menghancurkan kehidupan/termasuk amal perbuatan baik.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66). {الزمر : 65-66}.
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (65) Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.”(QS. Az-Zumar [39]: 65-66).

  • Pendidikan Syariah à Agar ibadahnya benar

قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم   : إِذَا عَرَفَ الْغُلاَمُ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ فَمُرُّوهُ بِالصَّلاَةِ. {رواه أبو داود}.
“Rasulullah Saw. bersabda: “Jika anak telah mengenal tangan kanannya dari tangan kirinya, maka perintahlah dia untuk mengerjakan shalat.” (HR. Abu Dawud). 
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله : مُرُّوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشَرَ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَـهَمْ فيِ الْمَضَاجِعِ … {رواه أحمد، وابن أبى شيبة، وأبو داود، وأبو نعيم فى الحلية، والحاكم، والبيهقي وغيره}.
“Rasulullah Saw. bersabda: “Perintahkan pada anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat, ketika ia sudah berumur (berusia) tujuh tahun, dan pukullah (sebagai pelajaran/didikan) ketika dia berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka antara satu dengan yang lainnya…” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqiey, dan imam lainnya).

  • Pendidikan Akhlaq yaitu  Cinta dan Hormat          Para orangtua, guru, sesama teman serta teladan di tengah masyarakat.
  • Mendidik anak membaca al-Qur’an à Setiap muslim wajib bisa membaca al-Qur’an à Memahami à Mengamalkan al-Qur’an.

 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ. {رواه البخاري}.
“Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mau mengamalkan (isi kandungan)nya.” (HR. Bukhari).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَشْرَفُ أُمَّتِيْ حَمَلَةُ الْقُرْآنَ. {رواه الترمذي}.
“Rasulullah Saw. bersabda: “Yang paling mulia (baik dan utama) dari umatku, adalah orang yang mau membawa al-Qur’an (mau mempelajari dan mengamalkan isi kandungannya serta mau menjadikannya sebagai pedoman hidupnya).” (HR. Tirmidzi).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اِقْرَءُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ. {رواه الترمذي}.
“Bacalah oleh kalian al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafaat (penolong) bagi orang yang mau membaca (serta mengamalkan isi kandungannya).” (HR. Tirmidzi).

والله أعلم بالصواب

By : Admin /May 12, 2013 /Article /0 Comment

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


Warning: fsockopen() [function.fsockopen]: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /home/sloki/user/iiecacid/sites/iiec-edu.com/www/wp-content/plugins/sweetcaptcha-revolutionary-free-captcha-service/library/sweetcaptcha.php on line 71

Warning: fsockopen() [function.fsockopen]: unable to connect to www.sweetcaptcha.com:80 (php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known) in /home/sloki/user/iiecacid/sites/iiec-edu.com/www/wp-content/plugins/sweetcaptcha-revolutionary-free-captcha-service/library/sweetcaptcha.php on line 71
Couldn't connect to server: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known (0)